Jawa Trading

Sapu Jawa Trading


Rumah yang bersih mencerminkan pemilik rumahnya – ini merupakan salah satu pepatah Jawa yang terkenal yang melambangkan pentingnya kebersihan. Sebuah umah dianggap sebagai cerminan dari karakter pemiliknya, sehingga untuk tetap bersih tidak cukup hanya sekedar kata-kata melainkan adalah suatu keharusan. Ada banyak jenis alat pembersih yang biasanya kita miliki, mulai dari kain lap sederhana sampai penghisap debu yang paling canggih. Namun, ada satu alat tertentu yang tidak dapat dipisahkan dari sebuah rumah dalam hal menjaga kebersihan, yaitu sapu.

Sapu adalah salah satu alat yang telah melalui berbagai jaman. Meskipun teknologi telah memberi kita banyak jenis penghisap debu yang memiliki fitur-fitur yang modern dan praktis, sapu masih akan tetap menghiasi sudut-sudut kamar di rumah kita. Meski sering diabaikan, sapu sebenarnya adalah satu benda yang selalu membuat kita terhindar dari sudut-sudut rumah yang kotor serta siap untuk melayani kita kapan saja kita membutuhkannya. Fungsinya tidak hanya sekedar alat pembersih untuk menyapu debu, kotoran, pecahan-pecahan atau bahkan – yang sering dimainkan dalam komedi – sering dipakai oleh suami yang malas sebagai alat perlindungan yang digunakan untuk menyingkirkan binatang berkaki empat tertentu dari rumah mereka. Sapu adalah alat multifungsi buatan tangan yang akan selalu berada di sisi kita dan, entah bagaimana, tidak bisa begitu saja digantikan oleh penghisap debu modern atau bahkan yang digital.

Namun, bentuk dan model sapu yang kita miliki sekarang belum ada sebelum tahun 1797 ketika Levy Dickenson, seorang petani dari Massachusetts, membuat sapu dengan menggunakan jumbai dari berbagai sorgum (Sorghumvulgere), yaitu sejenis rerumputan yang ditanam untuk diambil bijinya. Itu sudah dianggap sangat baik pada waktu itu. Maka, dimulailah pengembangan sapu modern seperti yang kita kenal sekarang. Sejauh ini, kita dapat menemukan banyak jenis sapu yang dijual terbuat dari bahan tradisional seperti sapu sorgumnya Levy sampai yang menggunakan serat plastik modern dengan pipa plastik berongga yang menggantikan sapu model lama yang menggunakan cabang- cabang pohon tua sebagai pegangannya.

Terinspirasi dari perannya yang tak terpisahkan dalam kehidupan kita, Pekik Warnendya (32) memulai minatnya dalam pembuatan alat pembersih ini. Kemudian, ia mulai membangun ide untuk membuat sebuah perusahaan kecil yang memproduksi sapu dengan menggunakan sorgum sebagai bahan utamanya. Industri ini seringkali dipandang sebelah mata meskipun pasarnya sangat luas karena setiap rumah membutuhkan produk ini. Dengan menganalisis potensi pasar, ia menyadari bahwa kebanyakan sapu di Indonesia didominasi oleh produk impor. Dengan demikian, pada saat itu, ia percaya bahwa persaingan untuk jenis industri ini masih terbuka luas karena ia hanya akan menghadapi pesaing local yang jumlahnya tidak banyak. Dengan membayangkan jika sebuah keluarga setidaknya membeli satu saja produknya, ia menatap pasar yang menjanjikan di depannya. Setelah beberapa pertimbangan, Java Trading lahir pada tahun 2010.

Dengan menggunakan sorgum sebagai bahan utama produknya, ia mulai memproduksi sapu dalam skala kecil di kampung halamannya, Purbalingga. Sorghum dua warna adalah spesies rumput yang

dibudidayakan untuk diambil bijinya, yang digunakan sebagian besar untuk makanan dan untuk produksi etanol. Butirannya kecil, yang berdiameter mulai dari dua hingga empat milimeter dengan diameter. Terlepas dari fungsinya sebagai sumber makanan pokok, rumput yang juga dapat digunakan untuk membuat sapu. Karakteristiknya yang kering dan kokoh membuatnya cocok untuk dimanfaatkan sebagai bahan sapu ini. Disamping sorgum, Java Trading juga mencoba untuk memakai Lophatherum gracile yang lebih dikenal sebagai rumput bambu. Tanaman ini dapat dengan mudah ditemukan di mana saja asalkan tempatnya tidak terlalu kering dan tidak terlalu lembab. Oleh karena itu, kedua bahan ini menjadi bahan utama yang dipakai oleh Pekik Warnendya dalam memulai usaha kecilnya.

Proses itu sendiri terdiri dari beberapa tahap. Mulai dari memilih bahan yang tepat yang sesuai dengan standar produksi mereka, bahan-bahan baku itu kemudian dipanen dengan lembut menggunakan tangan tanpa mesin atau alat mekanik lainnya. Setelah itu, proses pengeringannya membutuhkan area yang besar dan cukup kering untuk memastikan bahwa bahan bakunya dikeringkan dengan yang sempurna. Cuaca menjadi tantangan terbesar dalam proses ini karena proses pengeringannya sangat bergantung pada matahari. Tahap berikutnya adalah ketika keterampilan tangan memainkan peran penting karena setiap pengrajin harus menenun bahan kering untuk membuat sapu yang dirancang secara unik. Tahap terakhir yaitu finishing pada dasarnya adalah pekerjaan pengecatan dan pemolesan untuk menghasilkan produk jadi dengan penampilan yang lebih baik.

(tahap pengeringan) (tahap penganyaman) (tahap finishing) Dengan mempekerjakan orang-orang setempat dari daerahnya, Pekik Warnendya dapat menemukan chemistry yang enak dalam bekerja sama. Sejauh ini, ia telah mempekerjakan sekitar 10 karyawan setempat sementara yang lainnya berasal dari daerah terdekat. Ia menyediakan pelatihan yang diperlukan bagi karyawan untuk mempertajam kemampuan mereka karena industri ini sangat bergantung pada keterampilan tangan mereka. Menurutnya, dia tidak menganggap mereka sebagai buruh yang hanya melakukan apa yang diperintahkan kepada mereka, melainkan sebagai pengrajin yang bekerja berdasarkan kreativitas mereka. Selain itu, dengan menganggap mereka sebagai mitra, ia percaya bahwa kemitraan ini wujud perhatiannya untuk memelihara hubungan dalam jangka panjang dan bisnis yang berkelanjutan. Dia selalu memegang prinsip bahwa menghormati adalah kunci keberhasilan.

Setelah beroperasi selama sekitar enam atau tujuh tahun, perusahaan ini telah menghadapi banyak kendala seperti ketersediaan bahan baku. Dengan banyaknya permintaan, perusahaan ini perlu memiliki persediaan bahan yang nonstop untuk tetap berproduksi. Sampai sekarang, perusahaan telah bekerja sama dengan petani setempat untuk menyediakan bahan baku bagi mereka. Namun, karena membanjirnya permintaan, mereka harus memiliki lahan sendiri untuk menyediakan pasokan yang lebih konsisten bagi mereka dari bahan lain daripada yang sudah mereka terima dari petani setempat.

Masalah lainnya adalah semakin banyak invasi asing dalam bentuk produk impor yang merupakan tantangan bagi mereka dalam hal memasarkan produk mereka. Sejauh ini, sapu rumput terjual dengan baik karena harganya terjangkau. Namun, sapu sorgum telah memenuhi tantangan tersebut. Murahnya produk impor dengan menggunakan bahan yang sama tentu menjadi tantangan utama bagi perusahaan ini. Maka, mereka perlu memperluas pasar mereka dengan memiliki semakin banyak inovasi. Akibatnya, perusahaan ini terus memproduksi produk mereka dengan desain yang unik untuk menyenangkan pelanggan mereka. Mereka berharap mereka bisa bersaing dengan produk sapu impor dari luar negeri dengan mengerahkan semua upaya mereka dalam merancang sapu yang unik yang tidak dapat ditemukan di tempat lain di negara ini.

Setelah melayani pasar domestik dengan cukup baik, Java Trading mulai memusatkan perhatian mereka untuk mengekspor produk mereka ke luar negeri. Hasilnya sangat mengejutkan karena semakin banyak pesanan datang dari negara-negara Asia seperti Jepang dan Korea. Hal itu membuktikan bahwa produk mereka benar-benar dapat bertahan hidup di tengah tantangan pasar internasional. Baru-baru ini, mereka telah mencapai kesepakatan potensial dengan Turki. Keberhasilan ini samakin memaksa mereka untuk bekerja lebih baik dalam rangka memberikan produk yang memuaskan kepada pelanggan asing.

Sekarang, Pekik Warnendya berencana untuk membuat merek sendiri karena produknya masih kurang bermerek. Ia percaya bahwa ia perlu membangun strategi branding untuk memperluas pasarnya. Targetnya mendatang adalah untuk hadir dengan merk yang terkemuka untuk produk sapunya. Untuk memudahkan proses pemasaran, setiap produk membutuhkan merek supaya dapat melekat di dalam pikiran pelanggannya. Dengan demikian, tantangannya sekarang adalah untuk menemukan nama yang cocok yang dapat mewakili produknya di pasar. Dengan demikian, ia berharap bahwa ia dapat memiliki pasar yang lebih baik yang, pada akhirnya, dapat meningkatkan penjualan Java Trading. Broom adalah produk budaya yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Oleh karena itu, ia berharap bahwa ia dapat melestarikan tradisi lama ini sehingga teknologi tidak akan menguburnya supaya anak-anak kita tidak hanya bisa membacanya dari buku-buku tua yang berdebu.

Profil Perusahaan


Nama Perusahaan : JAVA TRADING

Jenis Perusahaan : Perusahaan produsen sapu

Alamat : Cempaka Dalam no. 12 perumnas Penambongan, Purbalingga, Central

Java Produk : Sorghum broom and bamboo grass broom Kisaran

Harga : Rp. 15.000 – Rp. 75.000

Pendapatan per tahun : Rp. 300.000.000,00

Deskripsi perusahaan :

  • JAWA TRADING didirikan pada tahun 2010 dan menjadi salah satu eksportir sapu terkemuka dari Indonesia. Desain yang unik dan ramah lingkungan adalah nilai jual kami. Kerjasama dengan pengrajin menjadi perhatian kami untuk memastikan hubungan yang berlangsung lama serta bisnis yang berkelanjutan. Menghormati satu sama lain adalah kunci keberhasilan kami. Industri sapu hidup berdampingan dengan upaya untuk melestarikan budaya dan adat istiadat.
  • Sapu adalah warisan nenek moyang kita dan warisan lokal. Supaya bisa diekspor ke Jepang dan Korea, sapu harus kuat, memiliki rancangan yang unik, ringan dan bersih. Meskipun negara- negara ini memiliki teknologi maju tetapi mereka masih membutuhkannya sebagai alat pembersih selain robot atau mesin pembersih canggih lainnya. Bahan terbaik digabungkan dengan pengrajin yang sangat terampil dalam menciptakan produk berkualitas tinggi membuat sapu ini menjadi eksklusif dan sangat bergengsi.
  • Kami bekerja bersama dengan para pengrajin, mengembangkan keterampilan mereka dan kerajinan tangan mereka secara manual karena mereka tengah merangkai kebijaksanaan hidup mereka, menghormati ibu pertiwi dengan melestarikan bahan baku alami yang dibudidayakan tanpa menambahkan pupuk kimia, dan dipanen dengan lembut menggunakan tangan tanpa mesin atau alat mekanik, dan kami juga bekerja bersama pengrajin, petani, masyarakat dan semua pemangku kepentingan untuk mewujudkan impian kami menjadi kenyataan. Hal ini menunjukkan kepedulian kami terhadap masa depan dan kehidupan yang lebih baik sehingga anak-anak kami akan menikmati warisan budaya ini secara terus menerus.
  • Sapu melambangkan kekuatan persatuan. Dengan demikian, tim kerja kami bersama-sama memberikan yang terbaik untuk masyarakat.

Contact Person : Pekik Warnendya (+6282133797165)

Misi Perdagangan dengan delegasi dari Turki